Akar Yang Terserak

02:07 kimzaqi 0 Comments

AWAL tahun lalu, Bambang Soerjadi, 74 tahun, kaget kedatangan tiga tamu tak dikenal. Mereka berbicara dengan aksen Sunda. Setelah disilakan duduk di kursi tua di ruang tamu rumahnya, salah seorang tamu-yang kurus dan berkumis-memperkenalkan diri sebagai Herman. Ia menantu Dianti, salah seorang anak Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. “Setelah itu, saya senang sekali,” kata Soerjadi. “Seperti sudah kenal lama.”


Bersama saudara-saudaranya, Herman datang dari Garut, Jawa Barat, untuk mengumpulkan kembali keluarga besar “Imam”-panggilan Kartosoewirjo-yang terserak. “Selama ini silaturahmi terputus,” kata Herman, yang dihubungi terpisah. Ia mengemban tugas wakil keluarga Kartosoewirjo. Pertemuan penuh haru di rumah di Jalan Setiabudi Nomor 20, Rembang, Jawa Tengah, itu diakhiri pelukan emosional.


Soerjadi sendiri tak pernah mengenal sosok Kartosoewirjo. “Bahkan fotonya saja saya ndak punya,” katanya. Tapi dia adalah cucu dari kakak Kartosoewirjo, yang bernama Soemarti Ning. Lantaran ayah mereka bekerja sebagai mantri candu, Soemarti kecil mendapat nama panggilan Belanda: Dora. “Saya lebih mengenalnya sebagai Eyang Dora,” kata Soerjadi. Belakangan ia baru tahu, Eyang Dora adalah kakak Kartosoewirjo. “Ibu saya selalu menutupi.”


Soemarti dan Sekarmadji Maridjan merupakan sepasang anak Kartosoewirjo, pegawai perusahaan kehutanan milik Belanda. Mereka tumbuh dan mengecap pendidikan di sekolah Belanda di Kota Rembang. Selama ini, nama ibu mereka tidak pernah diketahui. “Saya juga tidak tahu,” kata Sardjono, anak bungsu Sekarmadji.


Sejak muda, Sekarmadji gemar merantau, dan terakhir mengikuti H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Soemarti terus menetap di Rembang. Soemarti menikah dengan Soero Dipo Menggolo, yang bekerja sebagai mantri guru-semacam kepala sekolah. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Sri Suryowati. Sedangkan Sekarmadji, sejak menikahi Dewi Siti Kalsum, tinggal di Malangbong, Garut. Keturunan Soemarti berbahasa Jawa, sedangkan keturunan Sekarmadji sehari-hari bercakap dalam bahasa Sunda.


Sri Suryowati menikah tiga kali. Pernikahan pertama dengan Soedarmo, pemuda asal Blora, dikaruniai dua anak, yakni Sri Rahayu Siti Jumilah dan R. Handoyo. Setelah bercerai, Sri menikah dengan Roesman, asal Rembang. Ia melahirkan dua anak, yakni Bambang Soerjadi dan Bambang Soerjono. Setelah bercerai lagi, Sri menikah dengan Soeryanto, asal Kebumen, dan membuahkan dua anak, yaitu Bambang Irawan dan Endang Irowati.


Dari enam anak Sri, hanya Soerjadi dan Bambang Irawan yang masih hidup. “Dia kena stroke dan sulit berkomunikasi,” kata Soerjadi tentang saudara tirinya itu. Soerjadi juga tidak mengetahui keberadaan keturunan saudara-saudaranya yang lain.


Dari enam bersaudara itu, Bambang Soerjono merupakan yang paling unik. Dia memeluk agama Kristen, mengikuti agama istrinya, Iswati, asal Semarang. Dari pernikahan itu, lahir tiga anak yang kini menetap di Semarang, yakni Rony, Arianto, dan Fifi. “Saya tidak pernah bertemu mereka dan kehilangan kontak,” Soerjadi menerawang.


Belakangan, Soerjono bercerai dan balik ke Rembang. Ia menikah lagi dengan Sasanti, yang juga beragama Kristen. Dari pernikahan itu, lahir dua anak: Emi dan Bagus. Dengan keluarga satu kota ini pun Soerjadi tidak punya kontak. Bahkan, pada saat Lebaran, keponakannya tidak ada yang datang menjenguknya. “Paling cuma papasan bertemu di jalan,” ujar Soerjadi. Sepeninggal Soerjono, Sasanti lebih banyak menetap di Jakarta dengan keluarga lainnya.


Soerjadi, yang memiliki lima anak dan sebelas cucu, tinggal bersama anak perempuan dan dua cucunya. Ia pernah datang ke Malangbong, pada 1980-an, untuk menemui Eyang Dora, yang di Malangbong lebih dikenal sebagai Wak Mantri. “Ternyata (waktu itu) sudah meninggal,” katanya. Soemarti alias Eyang Dora menetap di Malangbong sejak 1960-an setelah bercerai dari Dipo Menggolo. Soemarti wafat pada 1975 dan dikubur di pemakaman keluarga di Malangbong. “Nisannya tak bernama,” kata Herman.

0 comments: